Pembaharu Dalam Islam

Pidato Chaudry Zafrullah Khan ini disampaikan saat peresmian Mesjid Pedroabad di Spanyol pada tanggal 10 September 1982. Mesjid ini adalah yang pertama dibangun di Spanyol dalam kurun waktu 500 tahun terakhir sejak umat Islam terusir keluar dari Spanyol. Dalam pidato ini si pengarang mengungkapkan kebutuhan akan seorang pembaharu dalam Islam, serta pengalaman dan perasaan pribadinya ketika bersama Hazrat Masih Mauud a.s.

Kejadian paling akbar dalam sejarah evolusi manusia, baik secara fisik, moral, intelektual maupun keruhanian, adalah turunnya sosok Muhammad s.a.w., Rasulullah, Nabi umat Islam, seorang Insan Kamil. Revolusi dahsyat yang diawali oleh beliau telah membentuk nasib manusia sepanjang zaman. Dampak dari revolusi ini secara ajaib bertambah kuat dan diremajakan kembali dalam seabad terakhir melalui kedatangan beliau yang kedua kali secara ruhaniah dalam wujud cerminan diri beliau yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian sebagai Al­Masih yang Dijanjikan dan Imam Mahdi (1835 ­ 1908). Beliau meletakkan dasar­dasar fondasi dari Jemaat Islam Ahmadiyah pada tahun 1889. Beliaulah yang telah menegakkan keunggulan agama Islam di atas semua agama lainnya.

Pertimbangan mengapa saya diberikan kehormatan oleh Hazrat Khalifatul Masih IV, Pemimpin Jemaat Ahmadiyah, untuk berbicara di hadapan sidang yang mulia pada pagi hari ini adalah karena saya adalah salah satu dari sahabat yang berkat rahmat Allah s.w.t. mendapat karunia untuk bai’at di tangan Hazrat Masih Mauud a.s. sendiri. Saya sepenuhnya menyadari akan ketidakberhargaan diri saya dan menyadari bahwa saya adalah yang paling lemah dari antara para sahabat dimana saya dikelompokkan dan karena itu saya amat berterima kasih atas kehormatan ini kepada Hazrat Khalifatul Masih IV dimana saya adalah salah satu hambanya yang paling lemah.

 

Tanggal 3 September 1904 merupakan hari yang paling bermakna dalam kehidupan saya. Pada hari itu berkat rahmat Allah s.w.t. saya telah diberi kesempatan untuk pertama kalinya memandang sosok Hazrat Masih Mauud dan Imam Mahdi a.s. ketika khutbah beliau sedang dibacakan oleh salah seorang murid utama beliau yaitu Hazrat Maulvi Abdul Karim Sahib saat berbicara di hadapan umum di Lahore. Sejak awal mata saya terpaut pada pemandangan yang luar biasa itu dan tetap terpaku sepanjang pembacaan khutbah yang berlangsung lebih dari satu jam. Saya merasa amat tergugah dan jiwaku meluap dalam rasa penghormatan kepada beliau. Saya merasa diri saya sepenuhnya terpana. Sejak saat itu tidak pernah ada bayang keraguan ataupun kesangsian di dalam hati. Berkat rahmat Allah s.w.t. saya sepenuhnya mengimani beliau. Alhamdulillah, pada saat itu saya berusia sebelas tahun. Segera setelah berusia empat belas tahun, saya melakukan bai’at di tangan Hazrat Masih Mauud a.s. pada tanggal 16 September 1907 di Qadian. Daftar kehormatan sebagai sahabat beliau ditutup kurang dari setahun kemudian ketika beliau wafat di Lahore pada tanggal 26 Mei 1908.

 

Saya tidak pernah merasa perlu adanya logika atau argumentasi sebagai dasar keimanan. Obor yang dinyalakan berkat rahmat Allah s.w.t. dalam kalbu saya tujuh puluh delapan tahun yang lalu terus saja bertambah terang dengan berjalannya waktu, apalagi diperkuat oleh hasil telaah, pengalaman dan kesaksian Ilahi. Saya selalu berpendapat bahwa meski logika dan argumentasi bisa berguna dan membantu bagi seorang pencari kebenaran yang tekun dan tulus, namun tidak berarti bagi seseorang yang memanfaatkannya hanya untuk menentang saja.

 

Sejarah Jemaat Ahmadiyah meski belum lagi mencapai satu abad (tahun 2008 ini berusia 119 tahun dan dengan karunia Allah s.w.t. jemaat ini terus menerus berkembang –pen), dipenuhi dengan berbagai pembuktian Ilahi akan kebenaran pendirinya serta pertolongan Allah s.w.t. yang tidak berkesudahan. Hal demikian merupakan bukti yang tidak bisa dipungkiri oleh logika.

 

Pernyataan mendasar Pendiri Suci dari Jemaat ini adalah bahwa beliau merupakan penerima tetap wahyu verbal Ilahi. Pernyataan seperti itu bisa palsu, bisa juga benar. Jika memang benar maka segala sesuatu yang dikemukakan oleh wahyu Ilahi mengenai harkat dan misi beliau patutlah diterima sebagai kebenaran. Bila pernyataan demikian palsu adanya, maka naudzubillah, beliau adalah seorang penipu dimana tidak perlu lagi memberikan perhatian kepadanya. Bagaimana memutuskan kebenaran permasalahan demikian secara konklusif? Al­Quran dalam Surah 69 ayat 45­48 yang menyatakan kalau seorang penipu atau mengada­ada pasti akan dihancurkan oleh Tuhan. Bagaimana Tuhan akan memperlakukan orang yang mengaku demikian? Hal seperti ini bukan masalah argumentasi tetapi masalah fakta. Yang berminat bisa membacanya. Semua itu merupakan contoh pertunjukkan karunia dan berkat Ilahi yang merupakan rentetan kemenangan. Sebuah pohon dikenali dari buahnya. Silakan buat studi perbandingan yang jujur dan tidak berprasangka tentang buah pohon ajaran Ahmadiyah dengan para lawannya, dan patuhi serta akui hasil yang dikemukakannya.

 

Al­Quran mengungkapkan rangkaian rahmat yang menjadi karakteristik orang yang beriman, begitu juga yang disabdakan Hazrat Rasulullah s.a.w. Saya akan mengemukakan masing­masing dari kedua kategori tersebut.

(a) Al­Quran berfirman:

‘Allah telah menjanjikan kepada orang-­orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah­khalifah di muka bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah­khalifah dari antara orang­orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscayalah Dia akan memberi keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah kepada­Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Daku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang­orang yang durhaka.’(S.24 An­Nur:56)

 

Hazrat Rasulullah s.a.w. menyatakan kalau beliau itu akan diikuti oleh para Pewaris Keruhanian, setelah suatu jangka waktu tertentu akan berubah menjadi kerajaan dan pada akhir zaman Pewaris Keruhanian ini akan dipulihkan kembali. Hal itulah yang telah terjadi. Hazrat Masih Mauud a.s. setelah wafatnya juga diikuti para Pewaris Keruhanian dan sekarang ini, tiga perempat abad kemudian, kita melihat pewaris keempat duduk di antara anda sekalian (Sekarang Jemaat Ahmadiyah dipimpin oleh Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a.-pen). Demikian itulah Allah s.w.t. sekali lagi telah memenuhi janji­Nya sebagaimana dinyatakan Al­Quran.

 

(b) Dalam Hadith dikemukakan:

‘Abu Hurairah r .a. meriwayatkan: Salah satu yang aku pelajari dari Hazrat Rasulullah s.a.w. adalah ucapan sabda beliau yaitu:“Allah akan membangkitkan bagi umat ini seorang pembaharu yang akan menghidupkan keimanan pada awal setiap abad.” (Abu Daud, Kitabal Malahan, h. 589)

 

Nubuatan Hazrat Rasulullah s.a.w. ini telah terpenuhi seluruhnya. Di awal masa abad keempat belas dari era Islam, Allah s.w.t. telah membangkitkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai pembaharu agama Islam. Tidak ada lagi orang lain yang mengaku demikian.

 

Abad kelima belas dari era Islam baru saja dimulai dan hampir bersamaan dengan awal tersebut, Allah s.w.t. telah menetapkan Sahibzada Mirza Tahir Ahmad, sebagai Khalifatul Masih IV, demi kebangkitan kembali Islam. Beliau pun tidak ada pesaingnya.

 

Menjadi pertanyaan mengapa di luar gerakan Jemaat Ahmadiyah, dunia Islam lainnya sama sekali luput dari rahmat utama yang telah dijanjikan Allah s.w.t. kepada mereka yang beriman dan saleh? Renungkanlah hal ini, wahai anda yang dikaruniai wawasan. Hal ini semua bukanlah suatu kebetulan karena Allah s.w.t. adalah pelindung orang­orang yang beriman, sedangkan mereka yang tidak memiliki keimanan tidak mempunyai pelindung (S.47 Muhammad:12). Sebagai ucapan terakhir adalah segala puji bagi Allah, Tuhan dan Pemelihara semesta alam.

2 Tanggapan ke “Pembaharu Dalam Islam”

  1. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. Says:

    Pembaharu menurut hadits datangnya tiap-tiap 100 tahun:
    1. Abad ke-1 H.: Umar bin Abdul Azis.
    2. Abad ke-2 H.: Imam Syafi’i.
    3. Abad ke-3 H.: Imam Al Asy ‘Ari.
    4. Abad ke-4 H.: Baqillani.
    5. Abad ke-6 H.: Imam Ghazali.
    6. Abad ke-6 H.: S.A.Q. Jailani.
    7. Abad ke-7 H.: I. Taimiyah.
    8. Abad ke-7 H.: Asqalani.
    9. Abad ke-9 H.: S.M. Jonpuri.
    10. Abad ke-10 H.: I. Suyuti.
    11. Abad ke-11 H.: S.A. Shirhind.
    12. Abad ke-12 H.: S.W. AD Dahlewi.
    13. Abab ke-13 H. : S.A. Barelvi.
    14. Abad ke-14 H.: Mirza Ghulam Ahmad.
    15. Abad ke-15 H.: Pembawa Hari Takwil Kebenaran
    Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53
    atau Kebangkitan ilmu pengetahuan
    agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat
    6,18,22 dari Indonesia.

    Kitab ilmunya yang populer berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Perspesi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. jamalsa Says:

    @Pak Soegana

    Dari yang saya tangkap anda menyiratkan bahwa anda mengaku sebagai pembaharu abad ke-15. Sesuai dengan hadist riwayat Abu Daud yang terdapat dalam tulisan di atas “Allah akan membangkitkan bagi umat ini seorang pembaharu yang akan menghidupkan keimanan pada awal setiap abad.” (Abu Daud, Kitabal Malahan, h. 589) maka Allah Ta’ala sendirilah yang akan membangkitkan mujadid. Karena itu tidak ada seorangpun yang menjadi mujadid tanpa mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala.


Tinggalkan Balasan