Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah (Bag 2)

Aku bersaksi kepada Allah yang Maha Agung bahwa aku bukanlah orang kafir. Aku beriman bahwa:

Laa ilaha illa Allahu Muhammad ur Rasulullah

Aku beriman kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. bahwa beliau adalah:

walakin rasuulallahi wa khaatam-an-nabiyyiin

Tidak ada dari ajaranku yang bertentangan dengan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Jika ada yang berfikir demikian maka hal itu adalah karena ketidakmengertiannya. Siapa pun yang menganggap aku sebagai kafir dan tidak menahan diri menganggap aku demikian, perlu mengingat bahwa ia akan diminta mempertanggungjawabkannya setelah ia mati nanti. Aku meminta Allah yang Maha Agung bersaksi bahwa aku beriman sepenuhnya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dimana jika seluruh keimanan manusia di abad ini diletakkan pada cerana timbangan yang satu dan keimananku pada cerana yang lain maka berkat rahmat Allah s.w.t. keimananku akan lebih berat dari semuanya. (Karamatus Sadiqin, Ruhani Khazain, vol. 7, London, 1984 hal. 67).

Pokok dari ajaranku adalah beriman kepada Allah yang Maha Esa sebagai wujud yang tidak ada sekutu-Nya, memiliki rasa welas asih kepada mahluk ciptaan-Nya, berperilaku baik serta tidak mempunyai itikad buruk. Berlakulah sedemikian rupa sehingga tidak ada

kerancuan atau kejahatan menghampiri hati kalian. Jangan bicara palsu, jangan menciptakan kedustaan dan jangan menyakiti siapapun, baik dengan tangan atau pun dengan lidah. Hindari segala bentuk dosa dan kendalikan hawa nafsumu. Cobalah mensucikan hatimu tanpa ada kejahatan sama sekali. Harus menjadi prinsip hidup kalian untuk mengasihi semua manusia. Pelihara tangan kalian, lidah kalian dan fikiran kalian dari semua hal yang tidak bersih dan rancu serta segala bentuk penipuan. Takutlah kepada Allah dan sembahlah Dia dengan hati yang suci. Tahan diri kalian dari melakukan kesalahan, pelanggaran, pencurian, menerima suap, persekutuan yang curang dan jauhi rekan-rekan yang jahat. Peliharakan mata kalian dari pengkhianatan dan telinga kalian dari mendengarkan umpatan. Jangan mempunyai rencana jahat terhadap para penganut agama atau suku bangsa atau pun kelompok lain. Jadilah penasihat yang tulus bagi setiap orang. Jangan sekali-kali menjadikan mereka pembuat kerusuhan atau yang berperilaku buruk sebagai sahabat. Jauhi semua jenis dosa dan berusaha mencapai nilai-nilai ruhani yang baik. Hati kalian harus bersih dari dusta, tangan kalian harus kalis dari perbuatan salah dan mata kalian harus bersih dari segala yang tidak suci. Jangan pernah mengambil bagian dalam tindak kejahatan atau pelanggaran. Upayakan sekuat mungkin agar kalian bisa mengenali Allah s.w.t., karena mengenali Dia berarti menemukan keselamatan dan yang menemukan Dia akan memperoleh pertolongan-Nya. Dia akan mewujudkan Diri-Nya kepada siapa pun yang mencari-Nya dengan kasih dan ketulusan hati, dan Dia akan membukakan Diri-Nya kepada ia yang benar-benar menjadi milik-Nya. Hati yang suci adalah arasy bagi-Nya, sedangkan lidah yang terbebas dari kedustaan, caci-maki dan bicara hampa merupakan tempat bagi Penampakan-Nya. Ia yang menenggelamkan dirinya dalam mencari keridhoan-Nya akan menjadi manifestasi dari kekuasaan-Nya yang Maha Luhur. (Kashful Ghita, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 187-188, London, 1984).

Adalah bagian dari keimanan kami bahwa kitab dan syariat yang terakhir adalah Al-Quran dan setelah itu sampai dengan Hari Kiamat tidak akan ada lagi Nabi yang membawa syariat baru, tidak juga ada penerima wahyu yang bukan dari pengikut Hazrat Rasulullah s.a.w. Pintu itu sudah ditutup sampai dengan Hari Penghisaban, namun pintu wahyu sebagai pengikut dari Rasulullah s.a.w. akan selalu terbuka. Wahyu seperti itu tidak akan pernah dihentikan, tetapi kenabian yang membawa syariat baru atau pun kenabian yang berdiri sendiri sudah ditutup dan tidak akan dibukakan lagi sampai dengan Hari Kiamat. Ia yang mengatakan bahwa ia bukan pengikut Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi yang membawa syariat, atau seorang nabi yang tidak membawa syariat, adalah sama dengan seorang yang hanyut oleh banjir dahsyat dimana ia akan terlempar dan tidak akan selamat sampai ia mati. (Review debat di antara Muhammad Hussain dari Batala dan Abdullah Chakralvi, Qadian, 1902; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 213, London, 1984).